Jumat, 17 September 2010

Yesus Tidak Benar-Benar Disalib


Islam dan Kristen adalah dua agama besar yang percaya dan sama-sama menghormati Yesus. Namun sudut pandang kedua agama besar ini berbeda dalam memberikan penilaian. Islam mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang Rasul. Sedang Kristen bersikeras mempertahankan keilahian-Nya. Mereka mengatakan bahwa Dia telah mati disalib untuk menebus dosa-dosa manusia yang percaya. Sementara disisi lain Islam berpendapat tidak seperti itu. Sudut pandang manakah yang benar?
Beberapa hari kemaren saya sempat tersenyum ketika membaca artikel yang ditulis oleh saudara Vivaldi pada link http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TM9EHRI29K50TB1NT. dalam artikel itu beliau mencoba membuktikan fakta penyaliban Yesus. Untuk mendukung pendapat beliau, beliau mengutip beberapa ayat suci al-Qurân yang ditafsirkan menurut pemikiran beliau sendiri. Beliau mengutip terjemahan al-Qurân dalam bahasa Inggris oleh Yusuf Ali, Rashad Khalifa, Shakir, Sher Ali, Muhammad Asad dan Muhammad Ali yang juga ditafsirkan dalam kacamata beliau.
Kelihatannya beliau tidak menguasai bahasa Arab. Sebab dalam tulisannya beliau tidak pernah sedikitpun membahas tata bahasa Arab. Padahal yang beliau kutip adalah ayat-ayat al-Qurân, sebuah kitab berbahasa Arab. Saya sarankan, untuk mendapatkan hujat yang kuat dari al-Qurân pahami dulu bahasa Arab sepenuhnya. Jangan semata-mata hanya mengandalkan terjemahan. Sebab antara text dan terjemahan tidak sepenuhnya sama.
Artikel saudara Vivaldi tersebut membuat hati saya terpanggil untuk membahasnya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan cukup untuk menjawab serta meluruskan penyimpangan penafsiran ayat al-Qurân dari saudara Vivaldi tersebut.
Islam tidak meyakini Yesus disalib. Informasi ini jelas segala gamblang dinyatakan dalam al-Qurân, surat An-Nisa’ 4:157.

Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Berdasarkan ayat inilah Islam menyatakan sudut pandangnya bahwa ‘'Isa (Yesus) tidak benar-benar disalib. Ayat menyatakan informasi cukup jelas, eksplisit dan tidak mendua arti. Saya heran kenapa tiba-tiba saudara Vivaldi mengatakan al-Qurân  menolak penyaliban Yesus dengan samar-samar, padahal ayat ini sudah begitu terang menyatakannya. Saudara Vivaldi sempat mengatakan ada pertentangan. Saya ingin bertanya, mana pertentangan itu…? Tidak ada dibagian manapun didalam al-Qurân  yang bertentangan dengan ayat ini.
Jika kita periksa, sebenarnya pertentangan pendapat hanya ada dibarisan para ulama. Bukan didalam al-Qurân. Para ulama memang berbeda pendapat dalam hal sejarah penyaliban. Berangkat dari perbedaan pendapat inilah saudara Vivaldi kelihatannya menyusun kekuatan untuk menghujat al-Qurân. Jika kita memperhatikan semua pendapat para ulama itu, seluruhnya akan bermuara pada surat An-Nisa’ 4:157 diatas. Mereka semua sepakat bahwa Yesus tidak disalib.
Sejarah penyaliban itu telah terjadi ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Dan para ulama mengeluarkan pendapat jauh setelah kewafatan-Nya. Jadi dalam kurun waktu selama itu wajar-wajar saja banyak terdapat pertentangan pendadat. Coba kita perhatikan sejarah supersemar. Peristiwa itu baru terjadi beberapa tahun lalu dan sekarang sejarahnya sudah banyak yang simpang siur. Apalagi peristiwa yang telah terjadi ribuan tahun silam. Jadi wajar-wajar saja banyak perdapat yang berbeda.
Saudara Vivaldi tidak seharusnya menyinggung perbedaan pendapat ini. Sebab ummat Kristen sendiri pun sebenarnya secara keseluruhan tidak memiliki sudut pandang yang sama. Diantara mereka juga terdapat perbedaan pendapat. Kecuali jika memang mereka semua sepekat mengatakan Yesus mati ditiang salib asli tanpa rekayasa. Wajar beliau menyinggungnya. Cuma kenyataannya tidak seperti itu. Menurut tulisannya, beliau juga sebenarnya mengakui adanya perbedaan pendapat diantara mereka.
Dalam artikelnya, saudara Vivaldi menuliskan bahwa, katanya banyal ulama-ulama Islam yang mengarang-ngarang cerita berkaitan masalah sejarah penyaliban. Tuduhan itu memang pada khususnya beliau tujukan pada golongan Ahmadiyah. Namun walau demikian, tentu imbasnya akan mengenai seluruh ummat Islam. Justru itu rasanya pemikiran-pemikiran para ulama Islam perlu diperjelas. Ulama-ulama Islam mengeluarkan pendapat sebenarnya bukan tanpa dasar. Apabila kita periksa pendapat mereka, jelas-jelas terdapat persamaan dengan apa yang tertulis didalam buku-buku kuno yang disusun sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Contihnya, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang disalib sebagai pengganti Yesus adalah Yudas Iskariot. Pendapat ini sesuai dengan apa yang tertulis didalam injil Barnabas. Injil Barnabas ini disusun pada abad ke-2 masehi. Periksa Barnabas: 215-218.
Pendapat-pendapat ulama lain pun ada persamaan dengan kitab-kitab yang telah disusun sebelum abad ke-5 M. Seperti Injil 2 kitab Jeus yang disusun pada abad ke-3, Injil Wahyu Petrus yang disusun abad ke-4, Injil Risalah kedua Set Agung yang disusun pada abad ke-2 dan Injil Perbuatan-Perbuatan Yohanes yang juga disusun pada abad ke-2 M. Periksa juga gulungan kitab Najah Hamadi.
Tulisan kitab-kitab diatas membuktikan bahwa sebelum abad ke-5 sejarah penyaliban Yesus telah hadir dalam berbagai versi. Orang-orang yang hidup pada masa itu sudah memiliki pandangan yang berbeda dalam hal ini. Ketika Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam pada abad ke-6, banyak diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani mengikuti. Cerita-cerita yang mereka ketahui sebelumnya masing-masing mereka bawa kedalam Islam. Dari sanalah para ulama Islam mengutip pendapat. Dikarnakan mereka yang masuk Islam ini memiliki pandangan yang tidak sama, maka itu menjadi penyebab berbedanya pendapat ulama-ulama Islam. Jadi para ulama Islam itu tidak mengarang-ngarang cerita.
Masalah pandangan Ahmadiyah saya tidak ingin membahasnya. Sebab mereka itu adalah golongan yang tidak diakui dalam Islam.  Syeikh Ahmad Deedat sebenarnya tidak mempopulerkan pendapat mereka seperti yang dituduhkan oleh saudara Vivaldi. Tapi dia mempopulerkan apa kata al-Kitab. Insya Allah nanti akan saya bahas pada blog lain.
Saudara Vivaldi dalam artikelnya memberi tuduhan bahwa al-Qurân adalah wahyu Muhammad SAW yang didapat dari dengar-dengaran dari kiri kanan sehingga menghasilkan cerita yang tidak lengkap dan membingungkan. Sebenarnya bila kita ungkap lembaran sejarah, tuduhan itu pantasnya ditimpakan kepada al-Kitab ummat Kristen bukan kepada al-Qurân. Sebab al-Kitab perjanjian baru seperti yang kita tau ditulis jauh setelah Yesus diangkat. Saudara Vivaldi sendiri mengakui, Injil Matius ditulis tahun 60 masehi, Markus tahun 55-65, dan Lukas tahun 60-63. Semua injil itu ditulis jauh setelah Yesus tidak ada dibumi ini lagi. Mereka menulisnya berdasarkan ingatan dan dengar-dengar dari kiri kanan.
Bagaimana dengan al-Qurân? Seluruh al-Qurân sudah ada dan lengkap sebelum Nabi agung Muhammad SAW wafat. Saat al-Qurân turun ayat demi ayat langsung ditulis dan dihafalkan oleh para sahabat atas bimbingan Nabi Muhammad sendiri. Kebiasaan menghafal al-Qurân sejak itu sudah memasyarakat di kalangan kaum muslimin sampai sekarang. Jutaan ummat Islam yang hafal seluruh al-Qurân sampai saat ini. Lalu bagaimana dengan ummat Kristen? Sepanjang sejarah, belum ada satu orang pun ummat Kristen yang dapat menghafal kitab Injil.
Jika memang saudara Vivaldi tidak meyakini al-Qurân dari Tuhan, saya ingin menantang beliau dengan tantangan al-Qurân itu sendiri. Al-Qurân didalam surat al-Baqarah 2:23 mengatakan.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Monggo Mas ……………
Saudara Vivaldi mengatakan al-Qurân tidak lengkap karena tidak menuliskan sejarah penyaliban. Sebab itu al-Qurân tidak terterperinci. Sepertinya ucapan beliau terlewat. Apa Injil lengkap dan terperinci? Kalau iya, tolong tunjukkan sejarah kehidupan Yesus mulai dari lahir sampai diangkat kesorga. Terutama ketika dia berumur 12-30 tahun. Dimana dia dan apa yang dia lakukan? Sebab didalam Injil saya hanya menjumpai sebagian dari sejarah hidupnya. Saat lahir dan ketika berumur 1-2 tahun, Injil Matius bab 1 dan 2 juga dalam Injil Lukas pada bab yang sama. Dalam Lukas 2:41-52 juga diceritakan sejarah ketika dia berumur 12 tahun. Setelah itu raib entah kemana. Kemudian pada Lukas 3:23 baru kembali muncul. Dan ketika itu dia sudah berumur 30 tahun. Kemana dia selama kurun waktu 18 tahun dan apa yang dia lakukan? Berarti Injil juga tidak lengkap dan tidak terterperinci menulis sejarah hidup Yesus. Bayangkan tokoh utama didalam novel al-Kitab perjanjian baru tiba-tiba hilang. Tapi tenang saja, kalau orang Kristen tidak tau dia kemana, nanti pada blog lain akan saya kasih tau.
Tidak tertulisnya sejarah penyaliban didalam al-Qurân tidak berarti al-Qurân itu tidak lengkap dan tidak terperinci. Ingat, al-Qurân bukanlah buku novel yang dapat menceritakan sejarah hidup seseorang secara lengkap. An-Nisa’ 4:157 itu bukan menceritakan masalah penyaliban, tapi hanya sekedar memberi informasi bahwa Yesus tidak disalib. Mungkin ada yang bertanya, kenapa al-Qurân hanya memberi informasi bukan menceritakan?
Kita semua tau, manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kita diberi otak, tenaga, kekuatan dll. Tuhan selaku penguasa tidak ingin hamba-Nya menjadi pemalas dan manja sehingga makan pun harus disuapi. Dia sudah memberi informasi secara lengkap bahwa Yesus tidak disalib. Maka manusia yang sudah diberi otak, tenaga dan pikiran itu harus berusaha mencari tau apa sebenarnya yang telah terjadi.
Jika saya seorang dosen, saya tidak harus memberitau mahasiswa saya tentang huruf-huruf apa yang mesti mereka tulis dalam makalah mereka. Saya sudah memberi mereka judul, maka untuk menyelesaikan makalah itu mereka harus berusaha mencari berita dari berbagai sumber yang mereka anggap otentik.
Jadi jika al-Qurân tidak menceritakan sejarah penyaliban secara lengkap, tidak berarti al-Qurân tidak terterperinci. Saat terpaksa menyanggah tulisan saudara Vivaldi saat beliau menyinggung al-Qurân surat al-An’am 6:114. Katanya ayat itu bermasalah karena mengatakan al-Qurân terterperinci. Sementara dalam pandangan beliau tidak demikian. Saya ingin memberi sebuah logika sederhana. Misalnya, jika saya seorang bendahara di satu organisasi. Dalam sebuah pertemuan yang diadakan dengan seluruh anggota saya disuruh mengimformasikan rincian keuangan organisasi dengan lengkap. Saat giliranny saya pun maju. Ketika membicarakan keadaan uang keluar saya mengatakan, pada tgl 1 April 2010 kas dikeluarkan untuk membeli buku demi melengkapi perpustakaan. Saya hanya mengimformasikan itu. Saya tidak memberitau bagaimana proses pembelian itu dilaksanakan. Ke toko buku mana saya pergi, dengan kenderaan apa, siapa teman saya, tidak ada penjelasan. Apa itu berarti saya tidak terterperinci dalam memberi penbjelasan? Tidak… saya tetap dikatakan terterperinci.
Sdr Vivaldi mengutip ayat al-Qurân surat al-Maidah 5:116-117 untuk menguatkan argumennya tentang Yesus telah mati. Beliau mengutip terjemahan al-Qurân dalam Bahasa Ingris oleh Yusuf Ali, Rashad Khalifa dll. Dan beliau mempermasalahkan Past Tense. Saya sudah katakan sebelumnya, seharusnya untuk bisa memahami al-Qurân pelajari dulu Bahasa Arab dengan tuntas. Saya tidak mengatakan terjemahan Yusuf Ali dll salah. Insya Allah mereka semua benar. Yang salah adalah saudara Vivaldi sendiri dalam memahami. Selengkapnya ayat tersebut berbunyi:

Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.

Yang menjadi acuan bagi saudara Vivaldi untuk memperkuat argumennya adalah kalimat, ﻓَﻠَﻤﱡﺎ ﺗَﻮَﻓَّﻴْﺘَﻨِﻰ (Maka setelah Engkau Wafatkan aku) yang terdapat pada pertengahan ayat 117. Kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ sesuai terjemahan Bahasa Ingris oleh Yusuf Ali dll ditulis dalam bentuk Past Tense. Karena itu saudara Vivaldi menyimpulkan saat ini Yesus telah meninggal.
Sepertinya saudara Vivaldi belum memahami latar belakang ayat ini. Surat al-Maidah 5:116-117 diatas adalah dialog antara Allah dan Yesus pada hari kiamat. Dalam dialog itu Yesus mangatakan, maka setelah Engkau Wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Disini Yesus menyatakan bahwa dia telah mati.  Ya, itu memang benar. Kenapa…? Karena dialog itu akan terjadi nanti pada hari kiamat dan ketika itu Yesus memang telah mati.
 Kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ  sebenarnya dapat juga diartikan dengan mengambil. Periksa kamus Arab-Indonesia karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus, 1989. Para ulama Islam banyak yang menafsirkan dengan kata ini. Sehingga mereka berpendapat bahwa ucapan Yesus pada pertengahan surat al-Maidah 5:117 diatas bukan menyatakan kewafatan, namun justru pengangkatannya. Sebab terjemahan ayat itu paling tepat, Maka setelah Engkau mengambil aku. Mengambil artinya mengangkat, bukan mewafatkan.
Saya dengar saudara Vivaldi tidak setuju dengan terjemahan ini. Beliau tetap bersikeras mengatakan bahwa arti ﺗَﻮَﻓﱡﻰ  adalah wafat atau meninggal. Sampai-sampai beliau dalam tulisannya mengemukakan referensi dari kamus Bahasa Indonesia W.I.S. Poerwadarminta BPK, 1976. Kalau memang beliau tetap menginginkan demikian tidak masalah, tetap ada penjelasan untuk itu.
Jika kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ diartikan dengan wafat, itu berarti kematian Yesus setelah kedatangannya yang kedua. Dalam hal ini saudara Vivaldi mengangkat dua point permasalahan.
1.   Jika Isa belum pernah wafat, berarti Allah belum mengawasi “mereka” (Murid-murid langsung Isa)
2.  Jika Isa akan wafat setelah kedatangannya yang kedua kali, saat itu “mereka” (murid-murid langsung Isa) sudah ribuan tahun wafat. Jadi siapa yang akan “diawasi” oleh Allah SWT?
Didalam surat al-Maidah 5:116 dikatakan: Hai ‘Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada “manusia”. Kata yang digunakan disana adalah ﻟِﻠﻨﱡﺎﺱِ yang berarti “manusia”. Allah tidak mengatakan, Hai ‘Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada “12 orang muridmu”. Perhatikan, Allah tidak katakan itu. Allah mengatakan manusia, itu berarti kepada seluruh manusia khususnya yang menganggap dia dan ibunya sebagai Tuhan. Termasuk orang-orang Kristen sekarang. Yesus tidak pernah mengatakan dia Tuhan. Baik dalam al-Qurân maupun dalam al-Kitab orang Kristen sendiri. Silahkan buka al-Kitab yang berjumlah 66 buku itu. Temukan apakah ada disana tertulis pernyataan dari Yesus sendiri yang mangatakan dia Tuhan atau yang menyuruh untuk menyembah dia?
Apabila diperiksa injil Yohanes 14:28 disana dia mengatakan, Bapa lebih besar dari aku. Pada bab 10:29 dia katakan, Bapaku lebih besar dari siapa pun. Dalam injil Matius 12:28 dia katakan, Aku mengusir setan dengan kuasa roh Allah. Pada injil Lukas 11:20 dia katakan, aku mengusir setan dengan kuasa Allah. Selanjutnya dalam Injil Yohanes 5:30 dia katakana, Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri, aku menghakimi sesuatu dengan apa yang aku dengar dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak dia yang mengutus aku.
Tidakkah pernyataan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa dia hanya orang biasa seperti kita. Ada apa dengan kalian duhai orang-orang Nasrani…? Kenapa kalian membuat semua orang heran dengan kalian…? Yesus menyuruh untuk menyembah Allah tapi kalian justru menyembah dia. Yesus mengatakan bahwa dia tidak mampu melakukan apapun sendirian tapi kalian menganggapnya mampu. Yesus mengatakan tidak tau, tapi kalian menganggapnya tau. Ada apa dengan kalian duhai orang-orang yang berpendidikan…? Tidakkah kalian sadar bahwa pemikiran kalian itu bertentangan dengan isi kitab suci kalian sendiri….?
Kembali pada saudara Vivaldi. Maksud kata ﻟِﻠﻨﱡﺎﺱِ (manusia) yang ada pada surat al-Maidah 5:116 diatas ditujukan kepada seluruh manusia khususnya yang menganggap Yesus dan ibunya Tuhan. Kata ini bukan ditujukan hanya kepada murid-murid Yesus. Sementara al-Qurân surat al-Maidah 5:117, ….adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka… Ini maksudnya, pada kedatangan Yesus yang kedua nanti dia akan menjadi saksi bagi siapa pun yang menganggap dia dan ibunya sebagai Tuhan. Dia akan bilang bahwa mereka tidak akan pernah mendapat surga dengan berpegang kepada kepercayaan itu.
Kesaksian dia ini juga ada dijelaskan didalam Injil Matius 7:21-23. 21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Perhatikan 3 ayat Injil Matius bab 7 diatas. Siapa kira-kira orang yang dimaksudkan Yesus...? Jawabannya jelas orang-orang Kristen. Merekalah yang dimaksud oleh Yesus pada ayat itu. Sebab, yang berseru kepada dia dengan sapaan Tuhan cuma mereka. Yang bernubuat demi nama dia juga mereka. Yang mengusir setan demi nama dia juga mereka dan yang mengadakan banyak mukjizat demi nama dia juga mereka. Jadi jelas, orang yang dimaksud oleh Yesus dalam Matius 7:21-23 diatas adalah orang-orang Kristen. Kemudian pada ayat 23 Yesus mengusir mereka. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.
Jadi pada kedatangannya yang kedua Yesus akan datang menjadi saksi. Dan setelah kedatangan itu, mereka semua yang keliru akan kembali kejalan yang benar. Dan selama dia masih bersama mereka, dia akan tetap mengawasi mereka. Setelah dia meninggal maka yang akan mengawasi mereka adalah Allah.
Kemudian saudara Vivaldi bertanya, kalau begitu sekarang Allah belum mengawasi mereka…? Jawabannya sudah diberikan pada akhir ayat 117 diatas. Allah maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jadi saudara Vivaldi tidak perlu khawatir, Allah akan tetap mengawasi anda dan teman-teman anda yang lain, juga akan mengawasi segala ciptaan-Nya kapan pun waktunya.
Untuk mengukuhkan jawaban saya pada pertanyaan pertama saudara Vivaldi, saya ingin membuat sebuah contoh. Menjelang kematian seorang pria berpesan kepada istrinya, “Istriku, setelah aku wafat nanti, kamulah yang akan mengawasi anak-anak kita”. Bagaimana menurut anda tentang cerita itu…? Apa selama ini istri orang tersebut tidak mengawasi anak-anak mereka…? Tentu tidak. Walaupun sang suami berkata demikian tidak berarti selama ini istrinya tidak mengawasi anak-anak mereka.
Selanjutnya saudara Vivaldi bertanya, Kenapa Allah SWT bertanya kepada Isa tentang apa yang pernah/ tidak pernah dikatakan oleh Isa? Apakah Allah SWT lupa bahwa Isa memang tidak pernah mengatakan demikian?
Allah maha suci dari segala sifat kekurangan. Allah bertanya bukan karena dia lupa atau tidak tau. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, surat al-Maidah 5:116-117 diatas adalah dialog antara Allah swt dengan Nabi Isa as di hari kiamat. Ketika itu semua orang yang pernah mempertuhankan dia dan ibunya akan berkumpul disana. Saat itulah Allah bertanya kepadanya seperti dalam surat al-Maidah 5:116 diatas. Lalu dia pun memberi jawaban bahwa dia tidak pernah mengatakan demikian. Tujuan pertanyaan itu diberikan agar Yesus dapat menyatakan sendiri secara langsung dihadapan mereka bahwa dia tidak pernah memproglamirkan dirinya dan ibunya menjadi dua orang Tuhan selain Allah. Jadi Allah bertanya bukan karena lupa atau tidak tau, tapi agar penjelasan keluar dari bibir Yesus sendiri diahadapan mereka. Jadi kesimpulannya, pertanyaan itu adalah untuk orang ketiga yang tidak tau apa-apa.
Seterusnya tentang al-Qurân surat Ali Imran 3:55. Yang menjadi acuan bagi saudara Vivaldi dalam ayat ini juga dalam kalimat ﺗَﻮَﻓﱡﻰ. Seperti pemnahasan sebelumnya, kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ dapat juga diterjemahkan dengan mengambil. Jadi pada ayat ini Allah swt mengatakan bahwa ‘Isa akan Dia ambil dan Dia angkat serta Dia bersihkan dari orang-orang kafir. Jelas tidak ada masalah dengan ayat ini.
Namun jika saudara Vivaldi masih ingin tetap memaksakan kata itu harus diterjemahkan dengan “wafat”, tidak masalah. Saya akan beri penjelasan untuk itu. Tapi jika kurang puas, maka beliau harus kembali pada penjelasan pertama saya diatas.
Kata yang menjadi pembatas antara ﻣُﺘَﻮَﻓِّﻴْﻚَ dan ﺭَﺍﻓِﻌُﻚَ dalam ayat diatas adalah ﻭَ bukan ﺛُﻢﱠ (kemudian). Kata ﻭَ punya lima arti yaitu, Dan, serta, sedang, padahal dan demi. Jadi pada ayat diatas akan diterjemahkan, sesungguhnya Aku (Allah) akan mewafatkanmu dan mengangkatmu. Karena kalimat disana dibatasi dengan kata dan bukan kemudian, maka tidak ada indikasi wajib bahwa Isa diwafatkan dulu baru diangkat. Dalam ayat itu bisa saja diambil makna bahwa Isa diangkat oleh Allah trus kemudian pada saat masanya tiba, yaitu pada kedatangannya yang kedua dia diwafatkan. Sama halnya jika saya berkata, saya makan ikan dan menggulainya.  Kalimat ini tidak wajib menunjukkan saya makan ikan dulu baru saya gulai. Tapi bisa saja saya gulai dulu baru saya makan. Itu lebih memungkinkan.
Saya harap saya sudah menjawab semua penafsiran yang salah dari saudara Vivaldi terhadap al-Qurân dalam hal penyaliban. Alhamdulillah tidak ada masalah. Semua isi al-Qurân benar dan tidak sedikitpun terdapat kekeliruan.
Juga masih dalam kaitan penyaliban, saudara Vivaldi mengutip ayat-ayat dari Injil Barnabas. Buat saya pribadi, sebenarnya Injil Barnabas itu jauh lebih bagus dan lebih bisa dipertanggung jawabkan dari pada al-Kitab yang dipakai ummat Kristen sekarang. Entah kenapa mereka menolaknya. Padahalkan sama-sama Injil.
Saudara Vivaldi sepertinya menganggap cerita dalam Injil Barnabas itu tidak dapat diterima akal. Berikut isi Injil Barnabas yang dianggap tidak masuk akal itu. (Dicopy Paste dari tulisan saudara Vivaldi)
Sekarang kita lihat apa yang diceritakan oleh “Injil”Barnabas tentang penyaliban Yesus dan silahkan menilai sendiri apakah ceritanya masuk akal atau tidak.
Sumber : Injil Barnabas Chapter 216
Judas entered impetuously before all into the chamber whence Jesus had been taken up. And the disciples were sleeping. Whereupon the wonderful God acted wonderfully, insomuch that Judas was so changed in speech and in face to be like Jesus
Judas mendahului semuanya memasuki ruangan dimana Yesus telah diangkat. Dan semua murid sedang tertidur. Kemudian Allah melakuknan mujizat dimana wajah dan cara berbicara Yudas berubah menjadi seperti Yesus. Kisah berlanjut dimana Yudas dalam wujud Yesus berteriak-teriak kalau dia bukan Yesus malainkan Yudas saat diperiksa oleh imam-imam Yahudi.
Sumber : Ibid Chapter 217
Judas answered:'I have told you that I am Judas Iscariot, who promised to give into your hands Jesus the Nazarene; and you, by what are I know not, are beside yourselves, for you will have it by every means that I am Jesus.' The high priest answered …..
Yudas menjawab, “aku telah memberitahumu bahwa aku adalah Yudas Iskariot, yang menjanjikan akan menyerahkan Yesus dari Nazaret, dan oleh sebab yang aku tidak ketahui, selain kamu ketahui sendiri, kamu telah menuduh bahwa aku adalah Yesus” Imam tertinggi menjawab….
Yudas dalam wujud Yesus masih terus menangis-nangis saat digiring dan disalibkan di Kalvari
Sumber : Ibid Chapter 217
So they led him to Mount Calvary, where they used to hang malefactors, and there they crucified him naked; for the greater ignominy. *Judas truly did nothing else but cry out:'God, why have you forsaken me, seeing the malefactor has escaped and I die unjustly?'
Sungguh aku berkata bahwa suara, wajah dan tubuh Yudas sungguh mirip Yesus, sehingga seluruh pengikut-pengikutnya mempercayai dialah Yesus ….. Dan juga mereka yang menemani ibu Yesus datang ke Kalvari, tidak hanya hadir saat kematian Yudas, namun terus menerus menangis. 
Sulit dibayangkan bahwa “Yesus Yudas” yang teriak-teriak dan menangis sambil menyangkal dia adalah yesus dihadapan umum masih dijadikan panutan oleh pengikut-pengikutnya. Bahkan pengikut-pengikutnya masih mau meninggal demi nama “Yesus Yudas” yang menangis-nangis saat mau disalibkan. Benar-benar lelucon ala muslim.
Kutipan Injil Barnabas diatas sepertinya tidak ada yang tidak masuk akal. Semuanya dapat diterima. Mana disana yang tidak mungkin…? Apakah karena Yudas berteriak-teriak dan menangis mengatakan bahwa dia bukan Yesus…? Itu hal yang wajar. Dia tau bahwa dia akan dihukum mati sebab Imam-Imam Yahudi menganggap dia adalah Yesus. Untuk menyangkal anggapan itu wajar dia berteriak. Ini tidak mustahil.
Manakah disana hal yang tidak mungkin. Apakah perobahan wajah dan cara bicara Yudas yang langsung identik dengan Yesus…? Itukah yang tidak mungkin…? Itu juga sebenarnya tidak mustahil, sebab semua terjadi karena mukjizat. Coba ingat kisah kelahiran Yesus. Atas izin Allah dia lahir dari rahim seorang wanita yang masih perawan. Al-Qurân dalam surat Ali Imran 3:45-47 dan Injil Lukas bab 1-2 menyebutkannya. Yesus bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah, al-Qurân surat Ali Imran 3:49 dan Injil Lukas 7:12-15 menceritakannya. Kemudian Nabi Musa, atas Izin Allah juga tongkatnya bisa berobah menjadi ular. Periksa al-Qurân surat Asy Syu’ara 26:32 dan kitab Keluaran 4:3.
Jika Allah dapat membuat Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan, dapat membuat Yesus bisa menghidupkan orang mati dan dapat membuat tongkat Nabi Musa berobah menjadi ular. Lalu kenapa Allah tidak dapat merobah wajah dan suara Yudas menjadi sama persis dengan Yesus. Itu mungkin saja. Jadi karena saudara Vivaldi menyuruh untuk memberi penilaian pada Injil Barnabas, maka saya katakan bahwa apa yang tertulis dalam Barnabas itu dapat diterima akal. Sebab semua terjadi karena mukjizat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar